Artikel

Apakah Harta Kita di Bawa Mati?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu`anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu`alaihi wa sallam bersabda,

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau do`a anak yang sholeh" (HR. Muslim no.1631).

Jadi apakah harta kita bisa dibawa mati? 

Jawabannya bisa. bagaimana caranya?

pada hadits yang lain riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.

Jadi sobat, sangat bisa harta kita di bawa mati. Tapi bukan harta yang ikut di kubur bersama si mayit namun, harta yang senantiasa kita sedekahkan semasa hidup di dunia. Sedekah jariyah yang dimaksud adalah harta sedekah yang terus menerus berlangsung kemanfaatannya. Seperti membangun masjid, selama masjid tersebut masih dimanfaatkan oleh kaum muslimin, maka pahalanya akan selalu mengalir kepada orang yang bersedekah tersebut. Begitu juga wakaf alquran dan buku-buku keilmuan dan yang semisalnya, sumur atau sungai (air) yang dialirkannya untuk umum dan lainnya.

Jadi sobat, sedekah jariyah adalah salah satu investasi yang tiada rugi bagi kita untuk bekal kita di akhirat kelak asalkan dengan hati yang ikhlas dan hanya berharap kepada Allah semata. karena sobat begitu dasyatnya amal jaruyah ini sampai sampai menjadi salah satu amalan yang tdak akan terputus kebaikan serta pahalanya.

Hanya amalan yang disyari`atkan Allah lah yang dapat memberikan manfaat kepada mayit setelah kematiannya, tentu saja amalan baik itu ibadah-ibadah maupun ketaatan itu adalah amalan dirinya sendiri semasa hidup di dunia dan bukan amalan orang lain.